Jumat, 19 Maret 2010

sistem pendingin

BAB I
PENDAHULUAN
I.1. LATAR BELAKANG MASALAH
Penyegaran udara merupakan usaha untuk mengontrol suhu dalam ruangan tertentu sehingga bisa memberikan kenyamanan bagi yang menempati, juga berfungsi untuk menjaga suhu ruangan yang berfungsi untuk menjaga suatu alat, dalam hal ini peralatan yang rawan terhadap panas.
Dalam peranananya sistem penyegaran udara dapat direncanakan, terutama pada tempat – tempat tertentu, tentang cara mengatasi kedinginan atau kepanasan sehingga suhu udara dapat disesuaikan dengan kebutuhan.
Melihat kenyataan saat ini faktor pemanasan global yang terjadi dewasa ini yang diakibatkan dari penggundulan hutan, gedung bertingkat atau rumah kaca, polusi industri dan yang semakin menipisnya lapisan ozon. Dengan demikian penyegaran udara bukan lagi merupakan barang mewah, akan tetapi sudah menjadi suatu kebutuhan.
I.2. TUJUAN PENULISAN
Penulisan ini merupakan tugas akhir mata kuliah sistem AC, dengan tujuan yang ingin dicapai adalah :
a. Mengenal system penyegaran udara yang dipakai pada ruangan tertentu, baik pada prinsip dasarnya maupun cara kerjanya serta perawatannya.
b. Diharapkan sistem pendingin udara dapat digunakan sesuai dengan tujuan secara efisien, efektif dan ekonomis.
I.3. PEMBATASAN MASALAH
Dalam penulisan tugas ini penulis memberikan batasan – batasan dalam pembahasan sesuai dengan pokok permasalahan yang ditulis, yaitu :
a. Pembahasan system penyegaran udara dan peralatan komponen.
b. Pembahasan teknik perawatan
c. Pembahasan system pengoperasian dan usaha mengatasi permasalahan.
I.4. METODE PENELITIAN
Metode yang igunakan dalam tugas akhir mata kuliah sistem AC ini adalah sebagai berikut :
1. Studi kepustakaan
Pada tahap ini pennulis memahami hal – hal yang berhhubungan dengan topic penyusunan tugas akhir mata kuliah sistem AC ini yang di dapat dari berbagai buku dan informasi dari berbagai media.
2. Konsultasi dan diskusi
Konsultasi dan diskusi dengan pembimbing dan orang - orang yang dapat memberi masukan kepada penulis.
3. Pengamatan lapangan
Penulis melakukan pengamatan langsung pada perangkat mesin pendingin, namun hal ini hanya terbatas pada mesin pendingin jenis Split dan Window, sedangkan jenis – jenis yang lain hanya analisa saja.
BAB II
TEORI DASAR
II.1. Penemuan Siklus Refrigerasi dan Perkembangan Sistem Penyegaran Udara.
Penemuan siklus refrigerasi dan perkembangan mesin refrigerasi merintis jalan bagi pembuatan dan penggunaan mesin penyegar udara. Komponen utama dari system refrigerasi adalah kompresor, kondensor, katup ekspansi pipa kapiler dan evaporator.
Instalasi pendingin yang pertama kali dibuat dan dipatenkan oleh seorang berkebangsaan Amerika yaitu Josep Mc. Creaty pada tahun 1987 yang dinamai mesin pencuci udara yaitu system pendinginan menggunakan air. Dan pada tahun 1906, Dr. Willis H Carrier kebangsaaan Amerika Serikat merupakan orang pertama yang berhasil membuat alat pengatur temperature dan kelembaban udara yang dapat mendinginkan dan menjenuhkan udara sampai mencapai titik embun
II.2. Definisi dari Penyegaran Udara
Penyegaran udara adalah suatu proses mendinginkan udara sehingga dapat mencapai temperature dan kelembaban yang sesuai dengan persyaratan kondisi udara dari sauatu ruangan tertentu yang dapat mengatur aliran udara dan kebersihannya.
Sistem penyegaran udara pada umumnya di bedakan menjadi 2 (dua) jenis golongan , yaitu :


a. Penyegaran udara untuk kenyamanan
Yaitu penyegaran yang fungsi utamanya mengatur suhu dalam ruangan yang memberikan kenyamanan bagi penghuni atau pemakainya dalam melakukan aktifitas tertentu.
b. Penyegaran udara untuk Industri
Yaitu penyegaran udara dari ruangan yang di fungsikan untuk menontrol suhu suatau perangkat yang ada di dalamnya. Biasanya peralatan – peralatan terebut tidak kuat akan suhu yang terlalu tinggi.
II.3. Mesin Penndingin yang digunakan dan karakteristiknya
● Window AC ( Room AC)
Kapasitas dari 5000-32000 BTU (0,4-2,7) TR = 1,4 – 0,5 KW
Keuntungan :
• Temperatur ruangan dapat dikontrol tersendiri dari masing-masing unit • Tidak memerlukan ducting
• Tidak memerlukan pemipaan
• Instalasinya sangat sederhana
Kerugian
• Memerlukan space pada dinding dan jendela
• Umumnya distribusi udara tetap kapasitasnya
• Pemasangan pada dinding luar sehingga kelihatan kurang baik.
• Umur pendek ( 4 tahun)
• Power consumtion pendek
● Split Package AC
A . Air cooled split system AC
• Condenser terpisah di luar dan evaporator dalam ruangan
• Condenser ditempatkan di atap atau di pekarangan
• Instalasinya dapat menggunakan ducting atau tanpa ducting
• Condenser didinginkan dengan udara
B . Water cooled split system AC
• Condenser terpisah di luar dan evaporator dalam ruangan
• Condenser ditempatkan di atap atau di pekarangan
• Instalasinya dapat menggunakan ducting atau tanpa ducting
• Condenser didinginkan dengan air
● AC Sentral
• Blower,evaporator, condenser, kompresor ditempatkan pada satu tempat.
• Pendinginan seluruh bangunan di sentralisir pada satu tempat
• Umur 18 – 20 tahun
• Pendinginan untuk bangunan besar dan bertingkat tinggi
Sistem distribusi :
1. All Air System
• Condenser, evaporator dan AHU ditempatkan pada satu tempat
• Udara dingin dari tempat tersebut dialirkan ke seluruh ruangan dengan ducting
• Menggunakan central AHU yang dilengkapi dengan central direct expantion coil
2. All Water system
• AHU ditempatkan pada setiap ruangan / lantai
• Setiap AHU dihubungkan dengan pipa air dingin dengan sentral
Keuntungan menggunakan all air system
• Lebih sederhana ( mudah dipasang dan dirancang)
• Distribusi udara lebih baik
• Pemeliharaan di sentralisir operation
Kerugian :
• Initial cost tinggi ( biaya ducting dan isolasi tinggi)
• Ukuran shaft dan ducting sama besar
II.4. Bagian – bagian Air Conditioner
Pada sistem refrigrasi mekanik kompresi uap terdapat rangkaian dari empat komponen utama, yaitu: evaporator, kompresor, kondenser, dan alat pengontrol aliran refrigeran. Masing-masing komponen mempunyai ciri dan fungsi sendiri-sendiri yang berbeda, tetapi secara terintegrasi dan dioperasikan bersama-sama akan dapat memindahkan energi termal. Dampak dari pengoperasian sebuah sistem refrigerasi pada sebuah obyek adalah, bila terambil sebagian energi yang terkandung di dalamnya, suhu obyek tersebut akan menurun. Sebaliknya, karena operasi sistem refrigerasi itu kemudian sejumlah energi termal terpindahkan ke lingkungan, maka lingkungan tersebut dapat menjadi lebih hangat.
Berikut ini uraian ringkas tentang komponen-komponen utama sebuah sistem refrigerasi mekanik
II.4.1.Kondenser
Kondenser adalah komponen di mana terjadi proses perubahan fasa refrigeran, dari fasa uap menjadi fasa cair. Dari proses kondensasi (pengembunan) yang terjadi di dalamnya itulah maka komponen ini mendapatkan namanya. Proses kondensasi akan berlangsung apabila refrigeran dapat melepaskan kalor yang dikandungnya. Kalor tersebut dilepaskan dan dibuang ke lingkungan. Agar kalor dapat lepas ke lingkungan, maka suhu kondensasi (Tkd) harus lebih tinggi dari suhu lingkungan (Tling). Karena refrigeran adalah zat yang sangat mudah menguap, maka agar dapat dia dikondensasikan haruslah dibuat bertekanan tinggi. Maka, kondenser adalah bagian di mana refrigeran bertekanan tinggi (Pkd = high pressure–HP).
II.4.2. Katup ekspansi(expansiondevice–EXD)
Piranti ini berfungsi seperti sebuah gerbang yang mengatur banyaknya refrigeran cair yang boleh mengalir dari kondenser ke evaporator. Oleh sebab itu piranti ini sering juga dinamakan refrigerant flow controller. Dalam berbagai buku teks Termodinamika, proses yang berlangsung dalam piranti ini biasanya disebut throttling process. Besarnya laju aliran refrigeran merupakan salah satu faktor yang menentukan besarnya kapasitas refrigerasi. Untuk sistem refrigerasi yang kecil, maka laju aliran refrigeran yang diperlukan juga kecil saja. Sebaliknya unit atau sistem refrigerasi yang besar akan mempunyai laju aliran refrigeran yang besar pula. Terdapat beberapa jenis piranti ekspansi. Di bawah ini diterakan beberapa di antaranya.


a. Pipa kapiler (capillary tube – CT).
Berupa pipa kecil dari tembaga dengan lubang berdiameter sekitar 1 mm, dengan panjang yang disesuaikan dengan keperluannya hingga beberapa meter. Pada berbagai unit refrigerasi yang menggunakannya pipa ini biasanya diuntai agar terlindung dari kerusakan dan ringkas penempatannya. Lubang saluran yang sempit dan panjangnya pipa kapiler ini merupakan hambatan bagi aliran refrigeran yang melintasinya; hambatan itulah yang membatasi besarnya aliran itu. Pipa kapiler ini menghasilkan aliran yang konstan.
b. Katup ekspansi tangan (hand/manual expansion valve – HEV).
Adalah pengatur aliran yang berupa katup atau keran biasa, yang dioperasikan untuk mengatur bukaannya secara manual
c. Katup ekspansi termostatik (Thermostatic expansion valve – TEV)
Pada piranti ini terdapat bagian yang dapat bekerja secara termostatik, yaitu mempunyai sensor suhu yang dilekatkan pada bagian keluaran evaporator. Perubahan suhu yang terjadi pada keluaran evaporator itu menjadi indikator besar-kecilnya beban refrigerasi. Variasi suhu itu dimanfaatkan untuk mengatur bukaan TEV, sehingga besarnya laju aliran melintasinya juga menjadi terkontrol.
d. Katup pelampung (float valve – FV).
Piranti ekspansi jenis ini biasanya dirangkaikan dengan evaporator jenis ‘genangan’ (flooded evaporator, wet evaporator). Ketinggian muka (level) cairan dalam tandon (reservoir) cairan evaporator menjadi pendorong pelampung yang menjadi pengatur besarnya bukaan katup.

II.4.3. Evaporator (evaporator – EV)
Evaporator adalah alat penukar kalor yang memegang peranan penting di dalam siklus refrigerasi yaitu mendinginkan media disekitarnya. Evaporator merupakan komponen di mana cairan refrigeran yang masuk ke dalamnya akan menguap. Proses penguapan (evaporation) itu terjadi karena cairan refrigeran menyerap kalor, yaitu yang merupakan beban refrigerasi sistem. Terdapat dua jenis Evaporator yaitu:
1. Evaporator ekspansi langsung (direct/dry expansion type - DX).
Pada evaporator ini terdapat bagian, yaitu di bagian keluarannya, yang dirancang selalu terjaga ‘kering’, artinya di bagian itu refrigeran yang berfasa cair telah habis menguap sebelum terhisap keluar ke saluran masuk kompresor.
2. Evaporator genangan (flooded/wet expansion type).
Pada evaporator jenis ini seluruh permukaan bagian dalam evaporator selalu dibanjiri, atau bersentuhan, dengan refrigeran yang berbentuk cair. Terdapat sebuah tandon (reservoir, low pressure receiver), di mana cairan refrigeran terkumpul, dan dari bagian atas tandon tersebut uap refrigeran yang terbentuk dalam evaporator tersebut dihisap masuk ke kompresor.
II.4.4. Kompresor (compressor – CP)
Kompresor adalah komponen yang merupakan jantung dari sistem refrigerasi. Kompresor bekerja menghisap uap refrigeran dari evaporator dan mendorongnya dengan cara kompresi agar mengalir masuk ke kondenser. Karena kompresor mengalirkan refrigeran sementara piranti ekspansi membatasi alirannya, maka di antara kedua komponen itu terbangkitkan perbedaan tekanan, yaitu: di kondenser tekanan refrigeran menjadi tinggi (high pressure – HP), sedangkan di evaporator tekanan refrigeran menjadi rendah (low pressure – LP).
II.5. Diagram Siklus Kompresi Uap
Sistem pendingin siklus kompresi uap merupakan daur yang terbanyak digunakan dalam daur refrigerasi, pada daur ini terjadi proses kompresi (1 ke 2), pengembunan( 2 ke 3), ekspansi (3 ke 4) dan penguapan (4 ke 1), seperti pada gambar. Dibawah ini.
Gambar Diagram alir kompresi uap
Kompresi mengisap uap refrigeran dari sisi keluar evaporator, tekanan dan temperatur diusahakan tetap rendah agar refrigeran senantiasa berada dalam fase gas.
Didalam kompresor, uap refrigeran ditekan (dikompresi) sehingga tekanan dan temperatur tinggi. Energi yang diperlukan untuk kompresi diberikan oleh motor listrik atau penggerak mula lainnya. Jadi, dalam proses kompresi energi diberikan kepada uap refrigeran. Pada waktu uap refrigeran dihisap masuk ke dalam kompresor, temperature masih rendah akan tetapi selama proses kompresi berlangsung, temperatur dan tekanan naik. Setelah proses kompresi, uap refrigeran (fluida kerja) mengalami proses kondensasi pada kondensor. Uap refrigeran yang bertekanan dan bertemperatur tinggi pada akhir kompresi dapat dicairkan dengan media pendinginnya fluida air atau udara. Dengan kata lain, uap refrigeran memberikan panasnya (kalor laten pengembunan) kepada air pendingin atau udara pendingin melalui dinding kondensor.
Karena air atau udarapendingin menyerap panas dari refrigeran, maka temperaturnya menjadi lebih tinggi pada waktu keluar dari kondensor. Selama refrigeran mengalami perubahan dari fase gas (uap) ke fase cair, tekanan dan temperatur konstan, oleh karena itu pada proses ini refrigeran mengeluarkan energi dalam bentuk panas.
BAB III
PENGUDARAAN DAN PERANGKATNYA
III.1. Pengudaraan Atau penghawaan
Untuk mencapai kenyamanan, kesehatan dan kesegaran hidup dalam rumah tinggal atau bangunan – bangunan bertingkat, khususnya di daerah beriklim tropis dengan udara yang panas dan tingkat kelembaban tinggi, diperlukan usaha untuk mendapatkan udara segar baik udara segar dari alam dan aliran udaran buatan
Cara memperoleh udara segar dari alam adalah dengan cara memberikan bukaan pada daerah yang diinginkan dan memberikan ventilasi yang sifatnya menyilang. Udara yang nyaman mempunyai kecepatan tidak boleh lebih dari 5 km/jam dengan suhu/ temperatur kurang dari 30oC dan banyak mengandung O2.
Daerah di Indonesia kebanyakan kurang memberikan kenyamanan karena udaranya panas (23o -34oC), udaranya kotor (berdebu, berasap) dan angin tidak menentu, khususnya pada bangunan tinggi, angin mempunyai kecepata tinggi. Karena keadaan alam yang demikian, maka diperlukan suatu cara untuk mendapatkan kenyamanan dengan menggunakan alat penyegaran udara (air condition).
Penyegaran udara adalah suatu proses mendinginkan udara sehingga mencapai temperatur dan kelembaban yang ideal. Sistem penyegaran udara pada umumnya dibagi menjadi 2 golongan utama :
a. Penyegaran udara untuk kenyamanan kerja
b. Penyegaran udara untuk industri
Sistem penyegaran udara untuk industri dirancang untuk memperoleh temperatur kelembaban dan distribusi udara yang sesuai dengan yang dipersyaratkan oleh proses serta peralatan yang dipergunakan di dalam ruangan yang bersangkutan. Dengan adanya penyegaran udara ini, diharapkan udara menjadi segar sehingga karyawan dapat bekerja dengan baik, pasien di rumah sakit menjadi lebih nyaman dan penghuni rumah tinggal menjadi nyaman.
III.2. Komponen utama Sistem Pendingin Udara
Komponen utama dari sitem penyegaran udara antara lain :
Sistem pembangkit kalor, Sistem pipa, Penyegar udara, saringan udara, pendingin udara, Sistem saluran udara : Kipas udara dan saluran udara.
III.2.1. Refrigeran ( Freon)
Siklus refrigerasi kompresi mengambil keuntungan dari kenyataan bahwa fluida yang bertekanan tinggi pada suhu tertentu cenderung menjadi lebih dingin jika dibiarkan mengembang. Jika perubahan tekanan cukup tinggi, maka gas yang ditekan akan menjadi lebih panas daripada sumber dingin diluar (contoh udara diluar) dan gas yang mengembang akan menjadi lebih dingin daripada suhu dingin yang dikehendaki. Dalam kasus ini, fluida digunakan untuk mendinginkan lingkungan bersuhu rendah dan membuang panas ke lingkungan yang bersuhu tinggi.
Siklus refrigerasi kompresi uap memiliki dua keuntungan. Pertama, sejumlah besar energi panas diperlukan untuk merubah cairan menjadi uap, dan oleh karena itu banyak panas yang dapat dibuang dari ruang yang disejukkan. Kedua, sifat-sifat isothermal penguapan membolehkan pengambilan panas tanpa menaikan suhu fluida kerja ke suhu berapapun didinginkan. Hal ini berarti bahwa laju perpindahan panas menjadi tinggi, sebab semakin dekat suhu fluida kerja mendekati suhu sekitarnya akan semakin rendah laju perpindahan panasnya.

Siklus refrigerasi dapat dibagi menjadi tahapan tahapan berikut:
1 – 2. Cairan refrigeran dalam evaporator menyerap panas dari sekitarnya, biasanya udara, air atau cairan proses lain. Selama proses ini cairan merubah bentuknya dari cair menjadi gas, dan pada keluaran evaporator gas ini diberi pemanasan berlebih/ superheated gas.
2 – 3. Uap yang diberi panas berlebih masuk menuju kompresor dimana tekanannya dinaikkan. Suhu juga akan meningkat, sebab bagian energi yang menuju proses kompresi dipindahkan ke refrigeran.
3 – 4. Superheated gas bertekanan tinggi lewat dari kompresor menuju kondenser. Bagian awal proses refrigerasi menurunkan panas superheated gas sebelum gas ini dikembalikan menjadi bentuk cairan . Refrigerasi untuk proses ini biasanya dicapai dengan menggunakan udara atau air. Penurunan suhu lebih lanjut terjadi pada pekerjaan pipa dan penerima cairan, sehingga cairan refrigeran didinginkan ke tingkat lebih rendah ketika cairan ini menuju alat ekspansi.
4 - 1 Cairan yang sudah didinginkan dan bertekanan tinggi melintas melalui peralatan ekspansi, yang mana akan mengurangi tekanan dan mengendalikan aliran. Kondenser harus mampu membuang panas gabungan yang masuk evaporator dan kondenser. Dengan kata lain: (1 - 2) + (2 - 3) harus sama dengan (3 - 4). Melalui alat ekspansi tidak terdapat panas yang hilang maupun yang diperoleh.
Standar siklus kompresi uap yang bekerja adalah dengan 15 ton pendinginan dengan memakai refrigerant R12 yang bekerja dengan temperatur kondensor 95oF dan temperatur penguapan 20oF. Karakteristik dari R12 (dalam P-H diagram) didapatkan :
h1 = 79,4 BTU/lb
h2 = 88,8 BTU/lb
h3 = 29,9 BTU/lb = h4
1. Refrigeration efek : h1 - h4
= 79,4 – 29,9 = 49,5 BTU/lb
2. Aliran refrigerant :
=
= = 60,6 lb/menit

3. Daya kompresi :
= 60,6 lb/menit (h2-h1)
= 60,6 lb/menit (80,8 – 79,4) BTU/lb
= 570 BTU/menit.
Jadi teaga (daya)
= 570 BTU/menit .
Power per ton : =
III.2.1.1. Sifat – sifat Refrigeran
● Sifat – sifat refrigerant yang harus dipenuhi untuk kebutuhan mesin pendingin adalah Tekanan penguapan harus cukup tinggi. Sebaiknya refrigeran memiliki temperatur pada tekanan yang lebih tinggi, sehingga dapat dihindari kemungkinan terjadinya vakum pada evaporator dan turunnya efisiensi volumetrik karena naiknya perbandingan kompren.
● Tekanan pengembunan yang tidak terlampau tinggi. Apabila tekanan pengembunannya terlalu rendah, maka perbandingan kompresinya menjadi lebih rendah, sehingga penurunan prestasi kondensor dapat dihindarkan, selain itu dengan tekanan kerja yang lebih rendah, mesin dapat bekerja lebih aman karena kemungkinan terjadinya kebocoran, kerusakan, ledakan dan sebagainya menjadi lebih kecil.
● Kalor laten penguapan harus tinggi. Refrigeran yang mempunyai kalor laten penguapan yang tinggi lebih menguntungkan karena untuk kapasitas refrigerasi yang sama, jumlah refrigeran yang bersirkulasi menjadi lebih kecil.
● Volume spesifik ( terutama dalam fasa gas ) yang cukup kecil. Refrigeran dengan kalor laten penguapan yang besar dan volume spesifik gas yang kecil ( berat jenis yang besar ) akan memungkinkan penggunaan kompresor dengan volume langkah torak yang lebih kecil. Dengan demikian untuk kapasitas refrigerasi yang sama ukuran unit refrigerasi yang bersangkutan menjadi lebih kecil. Namun, untuk unit pendingin air sentrifugal yang kecil lebih dikehendaki refrigeran dengan volume spesifik yang agak besar. Hal tersebut diperlukan untuk menaikkan jumlah gas yang bersirkulasi, sehingga dapat mencegah menurunnya efisiensi kompresor sentrifugal.
● Koefisien prestasi harus tinggi. Dari segi karakteristik thermodinamika dari refrigeran, koefisien prestasi merupakan parameter yang terpenting untuk menentukan biaya operasi.
● Konduktivitas termal yang tinggi. Konduktivitas termal sangat penting untuk menentukan karakteristik perpindahan kalor.
● Viskositas yang rendah dalam fasa cair maupun fasa gas. Dengan turunnya tahanan aliran refrigeran dalam pipa, kerugian tekanannya akan berkurang.
● Konstanta dielektrika dari refrigeran yang kecil, tahanan listrik yang besar, serta tidak menyebabkan korosi pada material isolator listrik. Sifat-sifat tersebut dibawah ini sangat penting, terutama untuk refrigeran yang akan dipergunakan pada kompresor hermetik.
● Refrigeran hendaknya stabil dan tidak bereaksi dengan material yang dipakai, jadi juga tidak menyebabkan korosi.
● Refrigeran tidak boleh beracun dan berbau merangsang.
● Refrigeran tidak boleh mudah terbakar dan mudah meledak.
III.2.1.2. Jenis-jenis refrigeran yang digunakan dalam sistim kompresi uap
Terdapat berbagai jenis refrigeran yang digunakan dalam sistim kompresi uap. Suhu refrigerasi yang dibutuhkan sangat menentukan dalam pemilihan fluida. Refrigeran yang umum digunakan adalah yang termasuk kedalam keluarga chlorinated fluorocarbons (CFCs, disebut juga Freons): R-11, R-12, R-21, R-22 dan R-502.
Pemilihan refrigeran dan suhu pendingin dan beban yang diperlukan menentukan pemilihan kompresor, juga perancangan kondenser, evaporator, dan alat pembantu lainnya. Faktor tambahan seperti kemudahan dalam perawatan, persyaratan fisik ruang dan ketersediaan utilitas untuk peralatan pembantu (air, daya, dll.) juga mempengaruhi pemilihan komponen.
III.2.2. Kompresor
Merupakan bagian yang paling penting dari mesin pendingin, kompresor menekan bahan pendingin kesemua bagian dri system. Pada system refrigerasi kompresor bekerja membuat perbedaan tekanan pada masing – masing bagian. Karena dengan adanya perbedaan antara sisi tekanan tinggi dan tekanan rendah, maka bahan pendingin cair dapat melalui alat pengatur aliran ke evaporator.
Fungsi kompresor sendiri adalah menghisap gas refrigerant dari evaporator yang bertekanan dan bertemperatur rendah kemudian memampatkan gas tersebut menjadi gas yang bertekanan dan bertemperatur yang tinggi.
Dua hal yang merupakan kemampuan karakteristik yang paling penting dalam kompressor yaitu kapasitas pendinginnya dan kebutuhan dari dayanya(power), power yang dibutuhkan kompressor yang ideal adalah yang sebanding dengan aliran massa dan penambahan enthalpy selama kompressi isentropis.
Persamaan tenaganya = W l b/min. ∆h BTU/ l b
W = massa rate
∆h = penambahan enthalpy selama isentropis kompresi.
Untuk menjadi HP harus dikalikan :
Kapasitas biasanya ditunjukkan dalam ton pendinginan dimana kapasitas ini sebanding refrigerating efek per l b refrigeratingdari aliran massa sehingga kapasitasnya menjadi :
h1 = enthalpy refrigerant yang masuk kompresor
h2 = enthalpy refrigerant yang masuk ke evaporator
Untuk pemakaian pendinginan ruang yang diamati menggunakan kompressor sentrifugal. Kompressor ini mempynyai kapasitas yang luas yaitu dalam ukuran-ukuran antara 50-3000 ton efisiensi kompresi adiabatis antara 70-80%. Keuntungan kompresor sentrifugal antara lain : hanya membutuhkan tenaga kecil untuk starting, pemeliharaannya sedikit mudah, pengambilan ruangan kecil kadang-kadang dapat dijalankan dengan turbin uap.
III.2.3. Kondensor
Kondensor adalah alat untuk membuat kondensasi bahan pendingin gas dari kompresor dengan suhu tinggi dan tekanan tinggi. Untuk penempatanya sendiri, kondensor ditempatkan diluar ruangan yang sedang didinginkan, agar dapat membuang panasnya keluar. Kondensor merupakan jaringan pipa yang berfungsi sebagai pengembunan. Refrigerant yang yang dipompakan dari kompresor akan mengalami penekanan sehingga mengalir ke pipa kondensor, kemudian mengalami pengembunan. Dari sini refrigerant yang sudah mengembun dan menjadi zat cair akan mengalir menuju pipa evaporator.
III.2.4. Evaporator
Evaporator merupakan jaringan pipa yang berfungsi sebagai penguapan. Zat cair yang berasal dari pipa kondensor masuk ke evaporator lalu berubah wujud menjadi gas dingin karena mengalami penguapan. Selanjutnya udara tersebut mampu menyerap kondisi yang ada dalam ruangan mesin pendingin. Selanjutnya gas yang ada dalam evaporator akan mengalir menuju kompresor karena terkena tenaga hisapan.
III.2.5. Pengering
Pengering terdiri dari sebuah silinder yang beriai desikan. Desikan tersebut dibungkus dengan maksud untuk mempermudah saat penggantiannya. Fungsilain dari pembungkus desikan tersebut agar serbuk desikan yang halus tidak keluar dari pengering dan ikut larut bersama refrigerant. Sedangkan pengering sendiri berfungsi untuk menghilangkan uap air dari refrigerant.
III.2.6. Pipa kapiler atau ekspansi
Pipa kapiler adalah suatu pipa pada mesin pendinginyang mempunyai diameterpaling kecil jika dibandingkan dengan pipa – pipa yang lainya. Pipa kapiler ini biasanya berukauran diameter 0,8 – 2,0 mm dengan panjang kurang lebih 1 meter. Permasalahan yang sering timbul pada pipa kapiler ini adalah karena kebocoran atau tersumbat. Pipa kapiler berfungsi untuk menurunkan tekananan mengatur cairan refrigerant yang mengalir di pipa kapiler. Sebelum gas mengalir ke pipa kapiler harus melalui alat yang disebut dried stainer atau saringan.
Ekspansi berfungsi sama seperti pipa kapiler. Ekspansi disini sebagai pengontrol refrigerant yang mengalir dari pipa ke pipa lainya.
III.3. Cara perawatan AC
Apabila Air Conditioning (AC) ingin bekerja optimal sehingga kualitas kesejukannya maksimal. Pastikan seluruh komponen AC selalu dalam perawatan. AC yang bersih menjadikan seluruh sistem kerjanya berjalan lancar. Tak ada lagi hambatan sirkulasi udara. Kerja komponen AC, seperti kompresor, tak lagi berat. AC pun bisa bertahan lama. Maka perawatan berkala wajib dilakukan
III.3.1. Cara merawat Outdoor Unit
Ada dua proses pembersihan AC, yaitu "Kecil" dilakukan untuk unit bagian dalam (indoor), misalnya filter dan penutup AC, dan yang "Besar" mencakup komponen Indoor (evaporator-nya) dan bagian luar (outdoor). Pembersihan kecil bisa dilakukan sesering mungkin, misalnya dua minggu. Pembersihan besar cukup dilakukan tiga bulan sekali.
Alat dan bahan yang diperlukan untik melakukan perawatan
a. Alumunium cleaner (applied)
b. Kuas
c. Obeng kembang
d. Tang kombinasi
e. Selotip
f. Plastik
g. Selang air
h. Ember
i. Kain lap
j. Spayer
Langkah-langkah Pengerjaan:
Buka penutup dengan melepas setiap baut pengunci. Lalu siapkan cairan pembersih alumunium dan campur dengan air, perbandingan 1:1. Oleskan cairan pembersih menggunakan kuas, mengikuti arah kisi-kisi alumunium. Kemudian tunggu lima menit sampai terlihat debu-debunya terangkat. Siram elemen tersebut dengan air bertekanan. Keringkan sebelum dipasang.
III.2. Cara merawat AC (Indoor unit)
Apabila Air Conditioning (AC) ingin bekerja optimal sehingga kualitas kesejukannya maksimal. Pastikan seluruh komponen AC selalu dalam perawatan. AC yang bersih menjadikan seluruh sistem kerjanya berjalan lancar. Tak ada lagi hambatan sirkulasi udara. Kerja komponen AC, seperti kompresor, tak lagi berat. AC pun bisa bertahan lama. Maka perawatan berkala wajib dilakukan. Ada dua proses pembersihan AC, yaitu "Kecil" dilakukan untuk unit bagian dalam (indoor), misalnya filter dan penutup AC, dan yang "Besar" mencakup komponen Indoor (evaporator-nya) dan bagian luar (outdoor). Pembersihan kecil bisa dilakukan sesering mungkin, misalnya dua minggu. Pembersihan besar cukup dilakukan tiga bulan sekali.
Langkah-langkah Pengerjaan
1. Buka seluruh penutup Indoor unit, dengan cara melepaskan baut penutup, menekan pengancing, lantas menarik penutupnya.
2. siapkan plastik pelindung untuk melapisi bagian sisi unit. Lapisan ini untuk melindungi panel kontrol AC dan tidak mengotori dinding.
3. Siapkan cairan pembersih elemen alumunium AC. Campurkan dengan air-perbandingan air Applied 1:1. Oleskan cairan dengan kuas searah elemen kisi-kisi evaporator
4. Biarkan lima menit agar cairan bekerja maksimal sewaktu mengangkat debu karat, Semprot dengan air tekanan, Caranya dengan menutup sebagian ujung selang dengan ibu jari atau menggunakan sprayer sampai tak terlihat busa.
5. Untuk bagian blower tersiram air, semprot air sambil memutar-metarnya dengan jari agar semua bagian blower tersiram bersih. lalu lubang pembuangan dibersihkan dengan pipet yang di tiup-tiup.
6. Keringkan unit indoor sebelum dipasang kembali.
III.3.3. Pemeriksaan dan Perawatan Rutin
Bagian indoor unit
• Kontrol dan bersihakn saringan udara apabila saringan tersebut kotor penuh debu ataupun lumut
• Pemeriksaan kedudukan terhadap dinding, jangan sampai kendor ataupun miring, jika miring ada resiko kebocoran karena air tidak mengalir ke saluran pembuangan.
• Perksa terminal rangkaian, biasanya apabila terlalu lama menyala ACnya terminal akan panas dan meleleh sangat beresiko terjadinya hubungan arus pendek
Bagian Outdoor unit
1. Periksa Hight preasure dan Low Preasure, jika tekanan semakin hari semakin berkurang ada kemungkinan terjadi kebocoran pada instalasi pipa.
2. Periksa arus, sesuaikan dengan standarnya.
3. Periksa kisi –kisi, usahakan jangan sampai penuh dengan debu atau kotoran
III.4. Permasalahan dan Pemecahanya.
Disini penulis juga menyertakan bagaimana mengatasi masalah – masalah yang biasa kita jumpai di mesin pendingin AC, yang penulis sampaikan hanya terbatas AC type Split dan AC Window.
1. AC mati semua unit tidak berfungsi sama sekali.
Permasalahan dan penyelesaianya
Periksa terminal yang menguhubungkan dengan listrik PLN. Hal ini terjadi biasanya terjadi karena tidak ada arus.
2. Unit beroperasi tapi tidak dingin
Permasalahan dan penyelesaianya
Periksa kompresor, ada kemungkinan kompresor macet atau bisa saja dari kontaktor, capasitor ataupun bimetal yang mengatur kerja kompresor.

3. Terjadi bunga es pada Evaporator
Permasalahan dan penyelesaianya
Hal ini baiasanya terjadi karena banyak hal antara lain :
Evaporator kotor, pemecahanya bersihkan dari kotoran dan lumut – lumut
Saringan Buntu Atau Kotor, pemecahan permasalahanya adalah bersihkan dengan air bertekanan sampai tidak ada lagi kotoran yang menempel
Kurang Freon, biasanya hal ini terjadi karena terjadi kebocoran saat instalasi.
Pemecahanya :
Cari dengan menggunakan air sabun dengan jalan mengusap atau pada bagian – bagian yang rawan bocor, misalkan sambungan. Jika terjadi gelembung – gelembung sabaun maka disitu lah summer masalahnya. Maka kencangkan kembali sambungan tersebut atau kalau perlu sambung ulang kembali
BAB IV
ANALISA SISTEM PENYEGARAN UDARA
Pada bab ini penulis menjelaskan tentang analisa dari system penyegaran udara yang penulis ambil waktu observasi di PT.VISTA AGUNG KENCANA . Data yang penulis ambil dari AC type split dan dan Window. Pada dasarnya prinsip dari kedua jenis AC tersebut sama dari cara kerja dan fungsinya, namun berbeda dalam segi fisiknya.

IV.1. Pengambilan Data
Cara pengambilan data di ambil dengan cara menganalisa langsung dilapangan, yang diambil secara acak dari berbagai tempat dan dari berbagai macam kondisi.
Berikut data hasil pengamatan yang saya dapatkan :
LOKASI Kapasitas Tekanan Freon Arus
LP HP
Lokasi A 2 PK 60 psi 80 psi 8,3 A
Lokasi B A PK 62 psi 90 psi 8,6 A
Lokasi C 2 PK 60 psi 85 psi 8,6 A
Lokasi D 2 PK 30 psi 40 psi 8,4 A
Lokasi E 2 PK 60 psi 85 psi 8,3 A
Lokasi F 2 PK 65 psi 85 psi 8,8 A
Lokasi G 2 PK 75 psi 95 psi 9,8 A
Lokasi H 2 PK 75 psi 85 psi 9,7 A
Lokasi I 2 PK 65 psi 85 psi 8,7 A
Lokasi J 2 PK 65 psi 85 psi 8,8 A
• Hasil pengamatan mengabaikan kecepatan angin dan cuaca ( semua data di anggap pada kondisi kecepatan angin dan cuaca yang normal )
IV.2. Hasil Pengamatan
Hasil pengamatan di lapangan banyak terjadi masalah, misalnya terjadi bunga es, keluaran kurang dingin, hasil pengukuran yang tidak sesuai ( pengukuran antara Low preasure, Hight Preasure dan Arus), AC unit kondisi normal tapi hasil pendinginan yang kurang maksimal. Permasalahan yang ada terjadi karena banyak factor, antara lain :
1. Terjadi kebocoran instalasi sehingga mengurangi gas Freon yang ada
2. Kompresor yang tidak bisa bekerja lagi secara maksimal
3. AC kotor karena jarang dibersihkan
4. Penempatan unit yang tidak pas
5. Tidak seimbangnya antara besarnya daya yang di hasilkan oleh unit AC dengan ruangan yang harus didinginkan
6. Seting remot yang salah
BAB V
KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan dan hasil pengamatan dan pengukuran yang telah dilakukan, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan :
1. Pemilihan AC disesuaikan dengan ukuran ruangan, semakin besar ruangan yang harus didinginkan maka semakin besar pula kapasistas AC yang digunakan.
2. Penempatan Outdoor dan Indoor yang baik.
3. Instalasi saat pemasangan harus diperhatikan yaitu serapi dan sekuat mungkin untuk menjaga terhindar dari kebocoran.
4. Untuk menjaga kondisi AC agar dapat bekerja secara maksimal dilakukan pengecekan dan pemeliharaan yang rutin.
5. Sesuakan daya listrik PLN yang terpasang dengan AC unit.

untuk contoh lain copy dan paste link di bawah ini :

http://www.ziddu.com/download/9051118/perhitunganbebanpendingindirumah.doc.html

http://www.ziddu.com/download/9051119/PENDINGINRUANGAN.doc.html

http://www.ziddu.com/download/9051120/Contohperhitngah.doc.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar